
RadarPurwakarta.com – Ada banyak guru yang tidak pernah menulis buku tentang dirinya sendiri. Mereka tidak menerbitkan memoar. Mereka tidak menyusun catatan perjalanan hidup. Bahkan sebagian besar mungkin tidak pernah menuliskan pengalaman mengajarnya secara sistematis. Namun sesungguhnya, setiap guru sedang menulis sebuah autobiografi. Bukan autobiografi yang dicetak dan dijual di toko buku. Bukan pula autobiografi yang disusun dengan bab-bab rapi dan kronologi yang teratur.
Autobiografi itu ditulis setiap hari di ruang kelas, di sela-sela percakapan dengan siswa, dalam keputusan-keputusan kecil yang diambil saat mengajar, dan dalam jejak yang ditinggalkan pada kehidupan orang lain. Menjadi guru pada dasarnya adalah menulis kisah profesional tentang dirinya sendiri. Setiap pertemuan dengan siswa adalah paragraf baru. Setiap kegagalan mengajar adalah catatan kaki yang mengingatkan bahwa masih ada yang perlu dipelajari. Setiap keberhasilan kecil adalah kalimat yang memperkaya cerita. Tahun demi tahun, tanpa disadari, seorang guru sedang menyusun narasi panjang tentang siapa dirinya dan bagaimana ia memahami profesinya.
Mungkin karena itulah tidak ada dua guru yang benar-benar sama. Mereka dapat mengajar mata pelajaran yang sama, menggunakan kurikulum yang sama, bahkan mengajar di sekolah yang sama. Namun, pengalaman yang mereka jalani akan membentuk identitas yang berbeda. Seorang guru adalah hasil dari seluruh perjalanan pedagogis yang pernah dilaluinya.
Saya sering teringat pada pertemuan-pertemuan dengan para guru senior. Ketika berbincang dengan mereka, yang muncul bukan pertama-tama teori pendidikan atau istilah-istilah akademik. Yang muncul justru cerita dan kisah.
Ada guru yang masih mengingat nama siswa yang diajarnya tiga puluh tahun lalu. Ada guru yang masih mengingat seorang murid yang hampir putus sekolah tetapi akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan. Ada pula yang masih mengingat kesalahan yang pernah dibuatnya di awal karier mengajar.
Mengapa cerita-cerita itu bertahan begitu lama? Sebab sesungguhnya itulah autobiografi profesional mereka. Setiap pengalaman meninggalkan jejak. Sebagian menjadi kenangan biasa. Sebagian lagi menjadi memori pedagogis yang membentuk cara pandang seorang guru terhadap pekerjaannya.
Dalam banyak kajian pendidikan modern, refleksi dipandang sebagai bagian penting dari perkembangan profesional guru. Guru tidak hanya mengajar. Ia juga memikirkan kembali apa yang telah dilakukan, mengapa melakukannya, dan apa yang dapat diperbaiki pada kesempatan berikutnya.
Namun bagi saya, refleksi bukan sekadar kegiatan evaluasi. Refleksi adalah cara seorang guru membaca autobiografinya sendiri. Ketika seorang guru mengenang pengalaman mengajarnya, ia sesungguhnya sedang membaca kembali bab-bab yang telah ditulis oleh kehidupannya.
Ia melihat kembali kelas-kelas yang pernah dihadapinya. Ia mengingat wajah-wajah siswa yang pernah hadir dalam perjalanan profesionalnya. Ia memahami bahwa setiap pengalaman, baik yang menyenangkan maupun yang mengecewakan, telah membentuk dirinya menjadi guru yang sekarang. Tanpa refleksi, pengalaman hanya akan menjadi peristiwa yang lewat begitu saja. Dengan refleksi, pengalaman berubah menjadi pengetahuan.
Saya pernah mendengar seorang guru berkata bahwa ia belajar lebih banyak dari kesalahan-kesalahan mengajarnya daripada dari berbagai pelatihan yang pernah diikutinya. Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun, semakin lama saya memikirkan pendidikan, semakin saya merasa bahwa ada kebenaran yang mendalam di dalamnya.
Banyak hal penting dalam profesi guru tidak lahir dari ruang seminar. Ia lahir dari pengalaman yang dijalani secara langsung. Seorang guru mungkin pernah menyiapkan pembelajaran yang menurutnya sangat menarik, tetapi ternyata siswa tidak merespons seperti yang diharapkan. Ia pulang dengan perasaan kecewa. Namun, dari pengalaman itu ia belajar tentang pentingnya memahami kebutuhan siswa.
Guru lain mungkin pernah menghadapi kelas yang sulit dikendalikan. Berbagai strategi telah dicoba, tetapi hasilnya belum memuaskan. Setelah melalui proses yang panjang, ia mulai memahami bahwa membangun hubungan dengan siswa sering kali lebih penting daripada menunjukkan otoritas.
Pengalaman-pengalaman semacam itu tidak selalu tercatat dalam dokumen resmi sekolah. Namun, justru di sanalah banyak kebijaksanaan profesional terbentuk. Dalam bahasa yang sederhana, seorang guru belajar menjadi guru melalui kisah-kisah yang dialaminya sendiri.
Di dunia sastra, autobiografi sering dipahami sebagai upaya seseorang menuliskan kembali perjalanan hidupnya. Yang menarik, proses itu tidak hanya berkaitan dengan mengingat masa lalu. Ia juga berkaitan dengan membangun makna.
Dua orang dapat mengalami peristiwa yang sama, tetapi menghasilkan cerita yang berbeda karena mereka memaknainya dengan cara yang berbeda pula. Hal yang sama berlaku dalam dunia pendidikan.
Dua guru dapat menghadapi situasi yang serupa, tetapi pengalaman itu dapat membentuk identitas profesional yang berbeda. Yang membedakan bukan hanya peristiwanya, melainkan bagaimana mereka memaknainya. Di sinilah refleksi menjadi sangat penting. Refleksi membantu guru melihat bahwa setiap pengalaman mengandung pelajaran. Bahkan pengalaman yang tampaknya biasa sekalipun dapat menjadi sumber pemahaman yang mendalam.
Seorang siswa yang diam sepanjang semester mungkin mengajarkan pentingnya kesabaran. Seorang siswa yang kritis mungkin mengajarkan pentingnya keterbukaan. Seorang siswa yang mengalami kesulitan belajar mungkin mengajarkan arti empati. Guru sering merasa bahwa mereka sedang mengajar siswa. Padahal dalam banyak kesempatan, siswa juga sedang mengajar gurunya. Hubungan itu bersifat timbal balik. Dan setiap hubungan timbal balik selalu meninggalkan cerita.
Ketika berbicara tentang autobiografi profesional, saya juga teringat pada konsep memori pedagogis. Sebagian kenangan mengajar memang perlahan memudar. Namun ada pengalaman-pengalaman tertentu yang tetap tinggal meskipun telah berlalu bertahun-tahun.
Saya mengenal banyak guru yang masih mengingat momen ketika pertama kali memasuki kelas sebagai pengajar. Mereka masih mengingat rasa gugup, suara yang bergetar, atau tangan yang sedikit gemetar ketika menulis di papan tulis. Ada pula yang masih mengingat siswa tertentu yang mengubah cara pandangnya terhadap pendidikan.
Mengapa memori itu bertahan? Sebab pengalaman tersebut memiliki makna yang mendalam. Ia menjadi bagian dari identitas profesional. Ia menjadi titik-titik penting dalam autobiografi seorang guru. Barangkali itulah sebabnya mengajar tidak pernah sepenuhnya menjadi pekerjaan teknis. Mengajar selalu melibatkan dimensi kemanusiaan.
Guru bekerja dengan manusia, bukan dengan mesin. Mereka berhadapan dengan harapan, kecemasan, impian, dan berbagai kemungkinan yang ada dalam diri peserta didik. Sebab itu, pengalaman mengajar selalu menyentuh wilayah yang lebih dalam daripada sekadar penyampaian materi.
Dalam beberapa tahun terakhir, pendidikan sering dibicarakan melalui bahasa angka. Kita berbicara tentang nilai, capaian pembelajaran, indikator kinerja, akreditasi, dan berbagai ukuran lainnya. Semua itu penting. Namun, ada satu hal yang tidak selalu dapat diukur oleh angka, yakni kisah.
Padahal, pendidikan sesungguhnya penuh dengan kisah. Ada kisah tentang seorang siswa yang akhirnya berani berbicara di depan kelas setelah berbulan-bulan diam. Ada kisah tentang anak yang menemukan minat membaca karena dipinjamkan sebuah buku oleh gurunya. Ada kisah tentang guru yang hampir menyerah tetapi kembali menemukan semangat karena melihat perubahan kecil pada siswanya.
Kisah-kisah semacam itu mungkin tidak masuk dalam laporan statistik. Namun justru di sanalah makna pendidikan sering bersemayam. Dan kisah-kisah itu menjadi bagian dari autobiografi profesional seorang guru. Mungkin karena itu saya selalu percaya bahwa guru seharusnya juga menjadi penulis.
Bukan semata-mata penulis artikel ilmiah atau buku ajar, meskipun itu penting. Yang saya maksud adalah penulis pengalaman. Guru perlu menuliskan apa yang dilihat, dipikirkan, dirasakan, dan dipelajarinya dari proses pendidikan. Ketika pengalaman ditulis, ia tidak lagi menjadi kenangan yang mudah hilang. Ia berubah menjadi refleksi. Ia menjadi pengetahuan yang dapat dibagikan kepada orang lain.
Lebih dari itu, menulis membantu guru mengenali dirinya sendiri. Banyak hal baru dipahami justru ketika seseorang mulai menuliskannya. Dalam proses menulis, guru dapat melihat pola-pola yang sebelumnya tidak disadari. Ia dapat memahami bagaimana pengalaman tertentu membentuk cara pandangnya. Ia dapat menemukan makna yang tersembunyi di balik peristiwa sehari-hari. Menulis menjadi cara membaca kembali autobiografi profesional yang sedang dibangunnya.
Pada akhirnya, menjadi guru bukan sekadar menjalankan profesi. Menjadi guru adalah menjalani sebuah perjalanan. Perjalanan itu tidak selalu mudah. Ada kegagalan, keraguan, kelelahan, dan berbagai tantangan yang menyertainya. Namun ada pula perjumpaan, pembelajaran, dan kebahagiaan yang membuat perjalanan itu layak dijalani.
Setiap hari, tanpa disadari, seorang guru sedang menambahkan satu halaman baru dalam autobiografinya. Sebagian halaman mungkin berisi keberhasilan. Sebagian lagi berisi kesalahan yang kemudian menjadi pelajaran. Ada halaman yang ditulis dengan penuh keyakinan. Ada pula halaman yang lahir dari kebingungan dan pencarian.
Namun, semuanya memiliki nilai yang sama pentingnya karena semuanya membentuk identitas seorang guru. Maka ketika seseorang bertanya apa sebenarnya yang sedang dilakukan seorang guru sepanjang hidupnya, mungkin jawabannya sederhana. Ia sedang menulis. Bukan hanya menulis di papan tulis. Bukan hanya menulis perangkat pembelajaran.
Ia sedang menulis sebuah autobiografi profesional yang tidak selesai ketika jam pelajaran berakhir. Sebuah kisah panjang tentang bagaimana seorang manusia belajar memahami manusia lain melalui pendidikan. Dan mungkin, seperti semua autobiografi yang baik, kisah itu pada akhirnya bukan hanya menceritakan apa yang telah dilakukan, melainkan juga siapa yang telah dibentuk oleh perjalanan tersebut.
Bionarasi Penulis
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.





