
PURWAKARTA— Kelurahan Nagrikaler, sebuah kawasan yang berada di jantung Kabupaten Purwakarta, menjadi saksi tumbuhnya semangat literasi yang mengakar dari kolaborasi masyarakat dan mahasiswa. Melalui program KKN-T Literasi 2025 dari IPB University, hadir sebuah inisiatif inspiratif yang kini menjadi ruang belajar, bermain, dan berimajinasi bagi anak-anak: Pojok Baca Kelurahan Nagrikaler. Tak sekadar tumpukan buku di sudut ruangan, Pojok Baca ini menjelma sebagai ruang partisipatif yang menjembatani anak dengan dunia literasi, serta menjadi sarana refleksi dan penghargaan atas kontribusi masyarakat dalam pembangunan berbasis pengetahuan.
Menyulut Imajinasi Anak: Read Me a Book & Membaca Nyaring
Kegiatan literasi dimulai dengan program sederhana namun penuh makna: membacakan cerita kepada anak-anak. Pada 9 Juli 2025, suasana berubah menjadi hidup dengan kegiatan Read Me a Book dan Membaca Nyaring. Tim KKN-T Literasi membacakan buku dengan intonasi yang ekspresif, suara yang menyenangkan, dan gerak tubuh yang komunikatif. Anak-anak diajak tidak hanya mendengarkan, tetapi juga menyelami isi cerita melalui tanya jawab ringan dan diskusi santai.
Mereka tertawa, bertanya, dan menyampaikan pendapatnya dengan antusias. Di sinilah bibit kecintaan terhadap buku mulai tumbuh, seiring dengan kemampuan berpikir kritis dan keberanian berpendapat.
Dari Pembaca Menjadi Pencipta: Menulis dan Menghidupkan Buku
Setelah menjadi pendengar aktif, anak-anak diajak menjadi kreator. Pada 10 Juli 2025, mereka mengikuti kegiatan Menulis Cerita Berbasis Isi Buku Bacaan. Anak-anak diberi kebebasan menulis ulang cerita dari buku yang telah dibacakan atau menciptakan cerita baru berdasarkan imajinasi mereka sendiri.
Kemudian pada 13 Juli 2025, suasana semakin semarak dengan kegiatan Mengulas Buku dan Membuat Proyek Kreatif. Mereka menyampaikan pendapat tentang buku yang telah dibaca dalam bentuk tulisan atau presentasi singkat. Proyek-proyek berbasis buku seperti menggambar karakter favorit, membuat origami tokoh cerita, hingga membuat mini panggung cerita, menjadi ajang ekspresi yang menyenangkan. Literasi tidak lagi hanya soal membaca, tetapi juga tentang mencipta dan berekspresi.
Panggung Apresiasi: Puncak Literasi dalam Semangat Kolaborasi
Semua usaha dan proses pembelajaran selama bulan Juli bermuara pada satu momentum istimewa: Puncak Apresiasi Literasi pada 27 Juli 2025. Aula Kelurahan Nagrikaler dipenuhi semangat dan kebanggaan saat anak-anak tampil membacakan karya mereka, menerima apresiasi, dan menunjukkan hasil belajar mereka.
Acara ini menjadi ajang selebrasi bersama. Penampilan tilawah, hadrah, dan tarian tradisional menambah kemeriahan. Dukungan dari SDN 4 Nagrikaler, SMPS/MTs Al-Muhajirin, guru, kepala sekolah, staf kelurahan, hingga pustakawan sekolah menegaskan bahwa literasi adalah urusan bersama. Ini bukan hanya milik dunia pendidikan, tetapi juga milik masyarakat.
Pojok Ajaib: Ruang Kecil dengan Dampak Besar
Pojok Baca Nagrikaler kini bukan sekadar ruang baca, tetapi ruang tumbuh. Di sinilah anak-anak bertemu dengan cerita, menyampaikan gagasan, serta mengembangkan empati dan kreativitas. Konsepnya sederhana, sebuah pojok dengan rak buku dan karpet baca namun dampaknya terasa nyata.
Pihak kelurahan memberikan dukungan luar biasa. Mereka percaya bahwa pojok ini dapat menjadi gerbang menuju masyarakat yang lebih literat dan berdaya. Bukan hanya anak-anak yang terlibat, tetapi juga orang tua, perangkat kelurahan, dan tokoh masyarakat. Pojok Baca menjadi milik bersama.
Literasi Menyebar: Kolaborasi Sekolah sebagai Ekstensi Gerakan
Tim KKN-T Literasi tidak berhenti di Pojok Baca. Mereka membawa semangat ini ke sekolah-sekolah mitra, yakni SMPS/MTs Al-Muhajirin pada 21 Juli 2025 dan SDN 4 Nagrikaler pada 22 Juli 2025. Kegiatan membaca bersama, membuat proyek buku, bermain edukatif, hingga meninggalkan kenang-kenangan berupa pohon cap jari mewarnai kunjungan ini.

Intervensi kecil ini memperluas cakupan gerakan literasi, menjadikan membaca sebagai kegiatan yang rutin dan menyenangkan di lingkungan formal. Ini adalah langkah strategis untuk menjadikan literasi sebagai bagian dari budaya sekolah.
KKN yang Menghidupkan, Bukan Sekadar Mengabdi
Program Pojok Baca dan rangkaian kegiatan literasi ini bukan hanya bagian dari agenda KKN. Ini adalah bentuk pengabdian yang hidup, yang berdialog dengan kebutuhan masyarakat. Program ini membuktikan bahwa mahasiswa bukan hanya datang untuk menjalankan program, tetapi hadir untuk menciptakan dampak. Literasi diposisikan bukan semata kemampuan membaca, tetapi kemampuan memahami, menyampaikan, dan mencipta. Anak-anak belajar untuk percaya diri, berpikir kritis, dan berkolaborasi. Nilai-nilai ini menjadi warisan paling berharga dari kehadiran program ini.
Menyalakan Pelita Literasi, Menyemai Harapan
Dari pojok kecil di sudut kelurahan, tumbuh harapan besar untuk masa depan. Lewat kegiatan sederhana seperti membaca bersama, menulis dan berdiskusi, anak-anak mulai memahami bahwa dunia bisa dijelajahi lewat halaman demi halaman. Pojok Baca adalah awal dari gerakan yang lebih luas. Bukan hanya tentang berapa banyak buku yang dibaca, tetapi seberapa dalam makna yang ditinggalkan. Ia bukan hanya tempat, tetapi gerakan. Bukan hanya proyek, tapi harapan. (FS)