
RadarPurwakarta.com – Purwakarta – Musim rambutan tiba, mahasiswa Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) memanfaatkan kulit rambutan menjadi cairan antiseptik handsanitizer.
“Kebetulan musim rambutan sudah tiba dan sangat banyak di Desa Cikadu, kami melihat potensi yang dapat dikembangkan dari buah ini, salah satunya adalah dengan mengolah kulitnya menjadi cairan antiseptik handsanitizer, ” Kata Non Aeni Febrianti mahasiswa Teknik Kimia Unsika di Desa Cikadu Kecamatan Cibatu Kab. Purwakarta. Senin (27/1/2025)
Desa Cikadu ini merupakan salah satu desa penghasil rambutan yang besar. Kebetulan kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) kami melihat potensi ini untuk dikembangkan. Kulit buah rambutan yang tidak bernilai dapat dimanfaatkan menjadi cairan antiseptik handsanitizer yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan.
“Kulit rambutan mengandung senyawa atau zat antosianin yang merupakan senyawa antibakteri dimana dapat membunuh dan mencegah mikrobiologi, ” Terang Non Aeni Febrianti
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Mahasiswa KKN di Desa Cikadu Kecamatan Cibatu Purwakarta, Mochamad Faizal Rizki mengatakan bahwa program ini bertujuan menyosialisasikan Sustainable Development Goals (SDGs) nomor tiga yaitu mempromosikan kesehatan yang baik, selain itu sebagai bentuk kepedulian mahasiswa dalam mengolah limbah/sisa-sisa yang tidak bernilai menjadi produk bermanfaat bagi masyarakat desa.
“Mahasiswa dirancang untuk menggali masalah sekaligus membuat solusi yang dapat membantu masyarakat desa, dalam hal ini mengolah cairan antiseptik dari kulit rambutan yang alami dan ramah lingkungan, sebagai upaya menyosialisasikan SDGs nomor tiga yaitu kesehatan yang baik ” Kata Mochamad Faizal Rizki.
Non Aeni Febrianti menerangkan bahwa produksi cairan antiseptik handsanitizer dari kulit rambutan ini sangat sederhana dan bisa dilakukan di rumah.
“Proses pembuatan handsanitizer sangat sederhana, pertama, bersihkan kulit rambutan, lalu dipotong dan dikeringkan selama kurang lebih 2-3 hari di bawah sinar matahari. Kemudian kulit rambutan yang sudah kering dihaluskan menggunakan penggiling seperti blender, mulai proses ekstrasksi yaitu dimana proses untuk pengambilan senyawa antosianin ini dengan cara direndam dengan alkohol 70% yang sudah diasamkan dengan hcl1% lalu di panaskan dengan suhu 70°C hingga pigmen atau warna merah dari kulit rambutan tersebut keluar yang menandakan antosianin ini sudah di ekstraksi atau sudah keluar, Jelas Non Aeni Febrianti.
Non Aeni Febrianti mengatakan proses selanjutnya adalah dengan cara mendinginkan hasil ekstraksi dan siapkan bahan lainnya seperti: 1) Gliserin (untuk melembabkan dan menyesuaikan ph kulit); 2) Polysorbate-20 (untuk menghomogenisasi formulasi yg sudah di rancang); 3) Alkohol 70% ( untuk mengstabillan manfaat yang sudah ada); 4) Aquades; 5) cocamidopropyl betaine ( pengawet agar produk tahan terhadap waktu); dan 6) Hasil ekstraksi kulit rambutan yang dimasukan satu persatu kedalam wadah dan di aduk hingga homogen/rata. Selanjutnya setelah pH sesuai di kadar 4,5 maka handsanitizer sudah aman untuk digunakan pada kulit dan siap untuk masukan kedalam kemasan.
“Warga desa, seperti petani dapat memanfaatkan handsanitizer dari kulit rambutan ini ketikan hendak makan setelah bekerja di sawah/kebun agar tangan bersih sebelum menyantap makanan, ” Pungkasnya